Senin, Juli 09, 2007

Pengurus

SUSUNAN PENGURUS MGMP BAHASA INDONESIA

SMP/MTs KABUPATEN PEKALONGAN

PERIODE 2005/2007

 

No

 

Jabatan

 

Nama

 

NIP

 

Asal Sekolah

 

1

Ketua 1

Muhamad Maliki, S.Pd.

132116789

SMP N 2 Doro

2

Ketua 2

Drs. Suharyanto

132117205

SMP N 2 Kesesi

3

Sekretaris 1

Jumadi, S.Pd.

131832736

SMP N 1 Bojong

4

Sekretaris 2

Nurul M, S.Pd.

-

SMP NU Kajen

5

Bendahara

S.H. Retnoningsih, S.Pd.

131395368

SMP N 1 Tirto

6

Koordinator

Murdioko, S.Pd.

131996132

SMP N 2 Tirto

7

Koordinator

Dra. Hastuti

132141685

SMP N 1 Siwalan

8

Koordinator

Syahroni, S.Pd.

132193287

SMP N 1 Karangdadap

9

Koordinator

Zulmasri, S.S.

500118015

SMP N 2 Talun

10

Koordinator

Zulfana, S.S.

500118016

SMP N 2 Paninggaran

11

Koordinator

Sulari, S.Pd.

131754891

SMP N 1 Kajen

 Alamat Email: mgmp-bipkl@yahoo.co.id

Posted by mgmp kab at 15:25:15 | Permanent Link | Comments (0) |

Sambutan Kepala Dinas

SAMBUTAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN
KABUPATEN PEKALONGAN
 
maaf data sedang diproses 
Posted by mgmp kab at 16:19:53 | Permanent Link | Comments (0) |

AD/ART

ANGGARAN DASAR
DAN RUMAH TANGGA
MGMP BAHASA INDONESIA
SMP/MTs
KABUPATEN PEKALONGAN




PERIODE
2005-2007

 

 

 

ANGGARAN DASAR
MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
KABUPATEN PEKALONGAN



PEMBUKAAN

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa
Untuk mencapai tujuan dan fungsi MGMP Bahasa Indonesia serta peran MGMP Bahasa Indonesia sebagai reformator , mediator, dan pendukung pendidikan dan untuik melakukan pembaruan dan pematapan sistem pendidikan nasional berdasarkan prinsip desentralisasi, otonomi, keilmuan, dan manajemen, maka eksistensi otonomi sekolah perlu diperkuat dengan kerja sama antar guru Bahasa Indonesia secara kolaboratif.

BAB I
NAMA, WAKTU, DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1
Organisasi ini merupakan wadah profesionalisme Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri dan Swasta serta MTs Kabupaten Pekalongan yang bernama MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan

Pasal 2
MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan sebagaimana dimaksud pada pasal 1 tersebut di atas berdiri sejak tahun 1993

Pasal 3
Tempat kegiatan MGMP Bahasa Indonesia adalah unit kerja ketua atau sekretaris dan tempat lain yang ditunjuk .

Pasal 4
Pusat organisai MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan berkedudukan di unit kerja ketua atau sekretaris.

BAB II
DASAR, ASAS, DAN TUJUAN

Pasal 5
MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945

Pasal 6
MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan berasaskan kekeluargaan, musyawarah dan mufakat.

Pasal 7
MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan bertujuan
1. Memotivasi para guru meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam merencanakan, melaksanakan, danl membuat evaluasi program kegiatan pembelajaran dalam rangka meningkatkan keyakinan diri sebagai guru profesional.
2. Mewujudkan kemampuan dan kemahiran guru dalam melaksanakan pembelajaran sehingga dapat menunjang usaha penigkatan dan pemerataan mutu pendidikan.
3. Mendiskusikan permasalah yang dihadapi dan dialami oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan mencari alternatif pemecahannya sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, guru, kondisi sekolah, dan lingkungannya.
4. Membantu guru memperoleh informasi teknis edukatif yang berkaitan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan kurikulum , metoodologi, sistewm pengajaran yang sesuai dengan mata pelajaran bahasa Indonesia.
5. Saling berbagi informasi dan pengalaman dari hasil lokakarya, simposium, seminar, diklat, penelitian tindakan kelas, referensi, dan lain-lain yangn dibahas bersama di sanggara MGMP
6. Mampu menjabarkan, merusmuskan agenda reformasi sekolah khususnya pusat pembelajaran di kelas sehingga terproses reorientasi pembelajaran yang efektif.

BAB III
KEDAULATAN

Pasal 8
Kedaulatan MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan berada di tangan anggota dan dilaksanakan sepenuhnya oleh rapat anggota.

BAB IV
SIFAT

Pasal 9
MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan sebagaimana dimaksud pada pasal 1 di atas merupakan organisasi non struktural yang bersifat mandiri .

BAB V
KEANGGOTAAN

Pasal 10
Keanggotaan MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan terdiri atas semua guru Bahasa Indonesia Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP) negeri dan Swasta.
Syarat-syarat keanggotaan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.


BAB VI
HAK DAN KEWAJIBAN

Pasal 11
Anggota MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan mempunyai hak dan kewajiban yang diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB VII
SUSUNAN DAN MASA BHAKTI PENGURUS

Pasal 12
Susunan pengurus MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 13
Masa bhakti pengurus MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB VIII
HAK DAN KEWAJIBAN PENGURUS

Pasal 14
Hak dan kewajiban pengurus MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB IX
PERMUSYAWARATAN

Pasal 15
Jenis Permusyawaratan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga

BAB X
KEUANGAN

Pasal 16
Keuangan organisasi didapat dari iuran anggota dan pihak lain yang bersifat tidak mengikat.

BAB XI
PEMBUBARAN MGMP BAHASA INDONESIA KAB, PEKALONGAN

Pasal 17
Pembubaran MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan hanya dapat dilakukan oleh rapat pleno yang khusus untuk keperluan itu, dengan ketentuan kuorum dan pengambilan kepetusan diatur Anggaran Rumah Tangga.
Tata cara pembubaran MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Hal-hal yang menyangkut kekayaan dan kepemilikan MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan akibat pembubaran sebagaimana tercantum pada ayat 1 dan 2 teersebut diatur dalam rapat pleno.

BAB XII
PENUTUP

Pasal 18
Segala sesuatu yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Anggaran Dasar ini hanya dapat diubah dalam rapat pleno yang khusus untuk itu.
Anggaran Dasar ini berlaku sejak ditetapkan.

Ditetapkan di : Kajen

Pada tanggal : 25 Juli 2005



Ketua MGMP
Kabupaten Pekalongan


MUHAMAD MALIKI, S.Pd

NIP 13116789

 

 

 

 

ANGGARAN RUMAH TANGGA
MUSYAWARAH GURU BAHASA INDONESIA KABUPATEN PEKALONGAN


BAB I
KEANGGOTAAN

Pasal 1
Anggota
Angggota MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Pekalongan
Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri Kab. Pekalongan
Guru Bahasa Indonesia MTs Kab. Pekalongan
Setiap anggota mewakili sekolah yang menjadi tempat tugasnya

Pasal 2
Syarat
Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri/ Swasta/MTs yang berada di wilayah Kabupaten Pekalongan
Sanggup menaati dan melaksanakan semua keputusan dan peraturan organisasi

Pasal 3
Kewajiban
Menjunjung tinggi nama baik dan kehormatan MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan serta memiliki keterikatan secara formal.
Tunduk dan patuh kepada Anggaran Dasar dan Anggaran RumahTangga dan keputusan MGMP Bahasa Indonesia SMP/Mts Kab. Pekalongan .
Mengikuti secara aktif kegiatan MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan
Mendukung dan munyukseskan seluruh program MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan
Menghadiri setiap ada pertemuan.
Memberitahu kepada pengurus secara tertulis atau lisan apabila tidak dapat menghadiri rapat sebagaimana butir nomor 5.
Memelihara terwujudnya persatuan dan kesatuan sesama anggota.

Pasal 4
Hak
Mengikuti kegiatan yang diadakan/diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan
Memperoleh pelayanan, pembelaan, pendidikan dan pelatihan serta bimbingan dari MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan
Mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan, memberikan usul dan saran yang bersifat membangun.
Memilih dan dipilih menjadi pengurus MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan

Pasal 5
Masa akhir keanggotaan
Meninggal dunia
Purna tugas/pensiun
Mutasi keluar daerah Kab. Pekalongan.
Menjadi Kepala Sekolah.

BAB II
SUSUNAN PENGURUS

Pasal 7
Pengurus MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Pekalongan berjumlah 11 orang terdiri atas :
Ketua
Wakil ketua
Sekretaris 1
Sekretaris 2
Bendahara
Koordinator Wilayah
a. Wilayah sub rayon 1 (2 orang)
b. Wilayah sub rayon 2 (2 orang)
c. Wilayah sub rayon 3 ( 2 orang)

BAB III
PEMILIHAN PENGURUS

Pasal 8
Pengurus MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kab. Pekalongan dipilih dari dan oleh anggota dalam rapat pleno setiap akhir periode kepengurusan.
Pengurus dipilih setiap 2 tahun sekali sampai terbentuknya kepengurusan yang baru.
Pengurus lama dapat dipilih kembali.

BAB IV
MASA BHAKTI KEPENGURUSAN

Pasal 9
Masa bakti kepengurusan ditetapkan untuk masa 2 tahun
Masa bakti kepengurusan berakhir bersamaan dengan disyahkannya menjelang pembentukan kepengurusan yang baru.
Masa bakti kepengurusan paling lama 2 periode berturut-turut

BAB V
SYARAT-SYARAT MENJADI PENGURUS

Pasal 10
Syarat
Sebagai anggota aktif.
Memahami dan menguasai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

BAB VI
HAK DAN KEWAJIBAN PENGURUS

Pasal 11
Kewajiban
Menjalankan semua ketentuan yang tercantum dalam AD/ART rumah tangga , semua peraturan MGMP dan keputusan MGMP Bahasa Indonesia.
Menyelenggarakan rapat anggota.
Menyelenggarakan rapat pengurus.
Memberikan pertanggungjawaban pada rapat anggota akhir masa bakti.
Memberikan informasi dan atau hasil rapat pleno kepada pihak-pihak terkait.

Pasal 12
H a k
Mengikuti pelatihan-pelatihan atau penataran yang terkait dengan kegiatan MGMP Bahasa Indonesia.

BAB VII
PERGANTIAN PENGURUS ANTAR WAKTU

Pasal 13
Pergantian pengurus dapat dilakukan sebelum masa baktinya berakhir apabila yang bersangkutan sudah tidak aktif menjadi guru Bahasa Indonesia Kab. Pekalongan.
Pengisian kekosongan pengurus dilaksanakan dalam rapat pleno.

BAB VIII
PERAN DAN TUGAS MGMP BAHSA INDONESIA

Pasal 14
Peran
Reformator dalam classroom reform, terutama dalam reorientasi pembelajaran efektif.
Mediator dalam pengembangan dan peningkatan kompetensi guru terutama dalam pengembangan kurikulum dan sistem pengujian.
Pendukung pendidikan dalam inovasi manajemen kelas dan manajemen sekolah.

Pasal 15
Fungsi
Sebagai wadah guru Bahasa Indonesia Kabupaten Pekalongan untuk meningkatkan Profesionalisme.

BAB IX
WEWENANG

Pasal 16
Berkaitan dengan peran dan tugas MGMP seperti tersebut dalam pasal 14, 15 di atas, MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Pekalongan berwenang.
Menghimpun dana dari anggota sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Anggaran Daras /Anggaran Rumah Tangga.
Memberikan masukan kepada K3S Kab. Pekalongan.
Memberikan masukan kepada anggota mengenai inovasi bidang pendidikan.
Memberikan masukan terhadap instansi yang terkait.

BAB X
PERMUSYAWARATAN DAN RAPAT-RAPAT

Pasal 17
Rapat anggota diadakan untuk :
a) Hal-hal lain yang menyangkut kepentingan anggota.
b) Memilih pengurus MGMP Bahasa Indonesia
c) menilai pertanggungjawaban pengurus
Rapat anggota diselenggarakan sekurang-kurang 1 kali dalam satu semester.
Dalam keadaan istimewa dapat diadakan rapat sewaktu-waktu atas pertimbangan pengurus.
Rapat anggota dinyatakan syah apabila disetujui sekurang-kurangnya setengah yang hadir.
Pengambilan keputusan diupayakan musyawarah mufakat.
Apabila pengambilan keputusan sebagaimana butir 5) tersebut tidak dapat dilaksanakan maka keputusan diambil dengan suara terbanyak.
Keputusan rapat dinyatakan sah apabila disetujui oleh sekurang-kurangnya setengah + 1 anggota yang hadir.

Pasal 18
Rapat terdiri atas :
d) Rapat anggota paripurna/pleno
e) Rapat pengurus harian
Rapat pengurus harian diadakan 1 bulan 1 kali dan sewaktu-waktu jika ada hal penting.

BAB XI
KEUANGAN

Pasal 19
Sumber keuangan MGMP Bahasa Indonesia berasal dari
a. Iuran anggota
b. Pihak lain yang bersifat tidak mengikat
Pengurus MGMP Bahasa Indonesia mempertanggungjawabkan penerimaan, pengelolaan, dan atau penggunaan dana MGMP Bahasa Indonesia pada seluruh anggota di dalam rapat pari purna.
Laporan keuangan disampaikan secara tertulis oleh pengurus MGMP Bahasa Indonesia dalam rapat anggota paripurna.

BAB XII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR /ANGGARAN RUMAH TANGGA

Pasal 20
Usul perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dapat dilakukan atas usul sekurang-kurangnya lebih dari setengah anggota yang hadir .
Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dapat dilaksanakan sekurang-kurangnya ½ (setengah) + 1 dari jumlah yang hadir yang memenuhi kuorum.

BAB XIII
PENUTUP

Pasal 21
Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ini akan dibahas pada rapat anggota.
Anggaran Rumah Tangga ini ditetapkan oleh rapat anggota dan mulai berlaku sejak tangga ditetapkan.



Ditetapkan di : Kajen
Pada tanggal : 25 Juli 2005


Ketua MGMP



MUHAMAD MALIKI, S.Pd.

NIP 13116789

 

 

 

 

Posted by mgmp kab at 15:24:15 | Permanent Link | Comments (0) |

Berita

maaf data sedang diproses
Posted by mgmp kab at 15:23:09 | Permanent Link | Comments (0) |

Artikel

maaf data sedang diproses
Posted by mgmp kab at 15:22:32 | Permanent Link | Comments (0) |

Puisi

Catatan Lelah dari kota ke kota
Oleh: Zulmasri
(
http://masterzulmasri.blog.com)

 

 

CATATAN PERJALANAN


Pagi di Sarga (1)


pagi itu kutiba di sarga
nyanyian li-po semalam mengalun dalam embun
berbaur bansi dan setangkai mawar
yang dititipkan di gemericik air kaki gunung
menambah mimpi resah dan gelisah

pada usia yang kian menua
kuterhenti di sarga
harum rambutnya membingkai hari-hari
dalam igauan dan rutinitas sunyi
:adakah yang tersisa dari hujan dan gerimis
selain amis dan tangis ?

pagi itu kutiba di sarga
nyanyian li-po berbaur hujan di petak-petak sawah
membawa tiga anak kecil – eka, veni, ica
berpantun akan kota yang berubah
menyandang tas, berangkat ke sekolah

pagi itu kutiba di sarga
:kubakar li-po dan membayangkan syair berdarah di cina


                Pekalongan, 2003

*) li-po: penyair Cina klasik



Pagi di Sarga (2)

menyusun kata, menyerap makna menguap
kita bingkai cerita dan kisah menyebalkan
di ujung mimpi dan sepi. kubangun kembali
istana diri pada rasa percaya yang pernah raib

dan pagi ini
kukenang perjalanan dari sarga ke padang panjang
kubayangkan persinggahan hamka sejak dari sungai batang
kuingat lagi dirimu: gadis baju kurung dan selendang
bertutur cerita warisan perantau
yang enggan berbagi lahan garapan

pagi di sarga dengan perjalanan lelah
kujelang usia di diri yang kerap gelisah


                Pekalongan, 2003



Pagi di Sarga (3)


melepas  penat di kelelahan memberat
subuh menyapa lewat tetesan embun di lengang fajar
ada dedaunan gugur – berserakan; ada genangan air
di halaman. sisa hujan semalam meluruhkan dendam
di wanginya pagi

masih remang; cahaya enggan memintal duka
di keriuhan burung-burung. pesta semalam
hanya meninggalkan lelah  panjang
di mabuk pikiran. sementara hidup menjadi permainan
yang berakhir di ujung belati

di sarga masih teramat pagi
kubunuh  dendam di belantara masa lalu
dengan langkah lelah mengaji
ke kota santri

    Pekalongan, 2003
 
*) Sarga = Sarang Gagak (sebuah kampung di kawasan kelurahan Andalas Padang)




Kurindukan Sarga di Pagi Hari


mengenangmu lagi di gerimis musim ini
adalah keindahan yang lena di ruang sunyi
ketika lelap kita tanpa jaga
ketika mimpi berbuah kenangan
kucumbui angan di riangnya suasana

kalau saja kau tuliskan cerita
dan berkisah sarang burung tempua
tentulah kurindu kepulangan
ke sarga di pagi hari
melenakan diri di lelahnya pelangi

kurindukan sarga di pagi hari
saat eka dan ica berangkat sekolah
saat veni bernyanyi rerumputan padi
akankah sunyi bercerita lagi
ketika kau tahu kisah yang lain
dari diri yang terjepit beton dan tiang yang tinggi?

kurindukan sarga di pagi hari
saat kupulang kerja dan jam memalu lima kali
cerita semalam telah menjadi headline
dan membangunkanmu dari kekacauan yang terjadi

di hari ini kurindukan lagi
ke sarga di pagi subuh
ketika kota yang kusinggah dilanda rusuh


Jakarta, Des 1996-Feb 1997



Kemarau Musim Ini
:dh

ada yang berubah saat tatapmu hinggap
di tingkap mata. kenangan masa lalu
mengambang di perjalanan harap
tentang kemarau musim ini. masih mungkinkah
kumiliki sepasang pipit di cerah senyummnu ?

kadang kubermimpi persinggahan kota-kota
dalam kelatnya kenyataan. harapan yang
hilang dan cita-cita yang lenyap
berlalu di palutan senja
namun selalu saja wajahmu menyapa
di riuhnya suasana

november yang kering, wajah kota hilang
di antara debu dan asap. teramat panas
bumi yang kujalani di kesendirian harap
meluruhkan daun-daun sepanjang senja
sementara rangkaian peristiwa
telah kehilangan makna aslinya
:adakah mungkin tersisa satu ruang
tuk kuselami di iring langkahmu ?


    Pekalongan, Nov 1997




Catatan yang Tak Pernah Selesai


dan akhirnya adalah kejenuhan
rutinitas kerja yang itu ke itu saja
(sementara kau masih bertanya tentang tangis
tentang hujan, embun, dan cahaya bulan di riak danau)
meski kau tahu
hari-hari begitu banyak berubah

tak pernah kubermimpi dan berharap darimu
meski kumengerti, kau bukan yang dulu
polusi membuatmu mabuk, dan jam hanyalah
detakan waktu yang tak pernah selesai
(masihkah kau setia menyimpan surat-surat
yang pernah kukirimkan?)
walau kutahu, kau tak pernah butuh itu

menjalani hari-hari panjang, tak pernah
kuingin damba yang muluk
tentang cinta atau rumah tangga yang
kelak kita bangun
sebab kita percaya cuaca
yang senantiasa berubah
dan di antara kenyataan yang kita temukan
tiada satu pun yang dapat mengobati luka
di sepanjang rasa jenuh dari rutinitas kerja


    Sungai Limau, Feb 1994

 

 

 
Dalam Malam Cahaya Lampu Kota


kaca-kaca buram etalase yang menampar penglihatan
kembali merawankan hati ke ujung mimpi, ika
di swalayan yang kukunjungi
barang-barang tak lebih dari permainan harga-harga
label-label dan merk-merk di atas pajangan
dan pencatatan discount di kassa

kau tahu hidup ini apa, ika
ketika kutahu kemerahan bibirmu
menggumpal dalam sapuan lipstick
mengimpikan setiap lelaki petualang
mengembara dalam cumbuan daun-daun
dan tiupan angina senja di sebuah kota

pada perjumpaan di swalayan tanpa rencana
harga-harga bermain dengan senyum, ika
bibirmu memerahi kerawanan hati
di pajangan barang-barang dan kassa
:masihkah peluk dan ciuman itu berarti
ketika kerinduan mesti berbagi
dengan rutinitas yang membuahkan sepi?
masihkah kita bicara kafe dan plasa
di antara rasa lelah di kepulangan kerja
pada larut yang mengintip segala gelisah?
entahlah, ika. di ketersisaan cahaya lampu kota
selalu kujadi penyair tersia


    Sungai Limau, 1995




Izinkan Kuistirah di Hatimu


izinkan kuistirah di hatimu
ketika lelahku bermain angan
perjalanan semestinya tak lagi impian
kota-kota telah meninggalkan catatan asing
di cuaca yang muram
masa berlalu seiring desau angin yang menderu

izinkan kuistirah di hatimu
dalam relung sunyinya kamar
sebab kebeningan selalu menyertai
setiap denyut nafas yang merindui

izinkan kuistirah di hatimu
mencari damai yang tak bermakna ganda
di guguran daun dan patahan ranting
kucumbui angan yang lama terpisah

izinkan kuistirah di hatimu
merajut merahnya benang hati


    Pekalongan, Juli 1997
    Padang, Agustus 1997



Jalan Pulang


jalan pulang yang dulu kita tempuh bersama
masih menyimpan jejak dalam bias
sepanjang pematang dan derai daun padi
kita urai nyanyian pagi sepanjang kenangan
:adakah kau simpan rindu
saat ketuk membangunkanmu di subuh
yang lelah di kepulangan kerja?

di sepanjang jalan pulang itu
telah kucatat kejadian sebagai headline  
di halaman-halaman surat kabar
membangunkan impianmu ke kenyataan
yang kita temui di rutinitas hari ini
:tentang pembunuhan, berita kriminal
catatan hari-hari yang lepas
dan kemacetan berbuah depresi

andai kusampai di rumah, masihkah setia
kau dengan apa yang akan kusampaikan?
kekusutan urai rambutmu menumbuhkan rindu
di kepagian. cerita-cerita yang tidak pernah lepas
membinarkan hidup di kesunyian diri
:masihkah detik jam mempertemukan kita
dalam renjana masa lalu?

meski kutahu ada yang telah tiada
saat jalan pulang penuh rerimba


    Padang, Des 1996



Kepergian


suatu ketika aku akan katakana padamu:
“selamat tinggal….”
walau mungkin tanpa iringmu, tidak ada
lambai itu
tapi kau harus mengerti, itu aku tak butuh
perpisahan yang menakutkan, kadang
adalah keberuntungan; (kau masih percaya buka?)
pertemuan-pertemuan kita selama ini
telah membawa kita kembali ke persimpangan
tanpa bias memilih jalan yang mesti dilalui

“selamat tinggal…!” kuteriakkan itu
di kesendirian pada jalan yang memang lengang
masihkah engkau kan tulikan telinga
ketika kau tahu, itu ucapanku yang terakhir?
barangkali ini hanyalah arogansi yang
kau pamerkan. sebab kutahu: matamu masih
menyimpan cahaya rindu
akankah dustamu kembali mewarnai hari-hari
yang tak lagi berlari?


    Sungai Limau, Maret 1994
    Padang, April 1994


Kepulangan


akhirnya aku pulang juga, meski kembara belum selesai
matahari mungkin telah senja, sementara mendung
masih berkabar duka
dan dalam kereta yang membawaku, angina memukul-mukul
dari jendela; hingga kumenggigil kedinginan
musim penghujan, mantel ini seperti tak berarti
panas yang kau nyalakan telah lama padam. aku kembali
menjalani kekalahan untuk kesekian kalinya

kepulangan; aku mengerti juga
kotamu terlalu sulit dimengerti
barangkali bukan untukku. terlalu banyak
keasingan demi keasingan yang belum pernah kurasakan
terlalu banyak basa-basi dan pancaran mata aneh
aku tak mengerti rumus, tak mengerti abjad
biarkan kupulang ke tempat kelahiranku, tanpamu
karena barangkali benar:
kotamu bukanlah untukku!


    Sungai Limau, Juni 1994



Ketika Suatu Kali dalam Hujan


ketika suatu kali dalam hujan kita bercerita
ada mendung di matamu, kutahu itu
senja telah membuat kita larut
dan di kafe, es kelapa muda telah lama kita habiskan

dalam deru hujan kita sama menanti
entah apa; sesuatu yang tak pasti, barangkali
kita tak saling bicara, meski kita sama menginginkannya
dan mata kita senantiasa meninggalkan bayangan-bayangan
ketakutan, (atau mungkin ketidakpastian)

di luar masih hujan, desember yang lembab
dan murung. kita mendengar ada bisik-bisik
sepasang kekasih bicara dalam remang
mesra sekali. tiba-tiba kumerasa cemburu

suara musik itu; ah, mengapa kita jadi seperti ini
sama memanjakan diri dalam kekerasan hati
kita terbentur kata, meski dalam hati kita menggerutu

kafe tua; “menyebalkan!” umpatmu
hujan itu masih menjadikan kita terbelenggu
kita telah coba menyelami makna
tapi kita sama mengerti, perjalanan masih jauh
tanpa tahu, di mana perhentiannya


    Padang, Desember 199



Kereta pun Berlalu dalam Igau Semusim


dan kemudian kereta pun berlalu
dalam igau semusim. kota membeku
di antara percakapan yang tak selesai
:adakah kau lerai kembali sisa kenangan
yang tersimpan rapi di memori ingat?

segalanya kembali mengental. kata yang
membuih telah lama ditinggalkan
kampung-kampung menjadi lengang. azan subuh
tak lagi terdengar. kemana lagikah langkah
kan diusung bila kemarau selalu berpirau?

selalu saja, kita setia melakoni denyut sejarah
yang tak pasti. saling membosani dan memendam
dendam di hati. pada setiap pertemuan hanya
tersisa rasa asing. lalu kita bersapa dalam diam
dan gelap. tanpa pernah kita mencari cahaya
dan damai yang tercipta

:akankah kita berharap dapat memintal luka
di antara gemuruh renjana yang ada?


    Pekalongan, Juli 1997




Kisah Perjalanan


masih tersisa tangis dan mimpi sedih
dari kota-kota yang kusinggah. saat pelangkahan
terurai lewat perjalanan diam
masih terngiang pesan bunda di keberangkatan
tentang sumur tua dan halaman rumah gadang ditumbuhi ilalang
dan di kenyataan, kemarau mendenyutkan kecemasan
masihkah semua dipersetankan di ujung kota?

kisah perjalanan berakhir pada catatan ujung halaman
di kota kecil. kebosanan menggayuti mendung
di antara ceramah-ceramah berulang
di antara kebiasaan-kebiasaan yang sama
kita banting mimpi dan kenangan di ujung rawan

angin dan hujan menderu dari jauh
kisah perjalanan selalu membelenggu
dimanakah damai kau titipkan?
:padahal kutelah jauh mencari
di jalan-jalan kota di antara rusuh yang menimpa



    Pekalongan, Juli 1



Laut


laut itu, sejuta kenangan telah tercecer
di sepanjang pantai
ketika kuingat: pantaimu masih saja seperti dulu
dalam landainya ombak
yang selalu meninggalkan buih
dal laut, selalu kurindu itu
ketika tanganmu terentang menggapai kapal
dan batas cakrawala

malam, telah sama kita dengar bait lagu
di antara gemuruh dan mendung yang bergayut
lautmu beriak di antara pantai-pantai
yang selalu saja mendeburkan ombak
apa kabar angina yang dating dari barat?
(tangismu masih disini), ketika kumerasa bahwa
kita telah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan
yang kita sukai. kita kembali ke kehidupan
semula. monoton
dan kita tak menyadarinya

seperti laut, ombak dan riak selalu tak berarti
membosankan
seperti laut, baying-bayang cahaya selalu membuat kita bertanya
kesetiaan
seperti laut kita adalah bayangan-bayangan
yang tak pernah mengerti dan mau memahami
mengapa laut harus beriak



    Padang, Oktober 1993




Manusia Pergi


di kehidupan pengembaraan, perjalanan sunyi
adalah ekstase kerinduan untuk bertamu
di ruang rahimMu. gejolak darah memenjara diri
di pekatnya suasana. suara-suara gaduh luruh
meninggalkan lelaki pemimpi di kenyataan yang lirih

saat perhentian tinggal kerjapan, awal pencarian
berkabarkan hening. perjalanan ingin di dunia lain
:adakah diri akan selalu pergi?
di ketukMu, rahasia mawar menjadi tiada
akhir kedatangan hanyalah awal keberangkatan
ke tabir gelapMu yang membuka

akankah rahasia kegaiban Kau buka tirainya?
--kerdipan lilin dan ruang yang tiada
membawa diri ke perjalanan kedua
saat langkah terantu, saat tujuan hilang bentuk
keriangan diri menggapai keriuhan
di pintuMu yang penuh rahasia

andai kudatang menuai kenangan
akankah mimpi jadi kenyataan baru
di pintu ketukMu?


    Jakarta, Feb 1997


Perjalanan (1)


ketidakmengertian itulah yang sering membawa
kita kembali menafsir ruang dan curiga kata
ketika dalam perjalanan, detik jam tak lagi
sama kita jadikan pedoman
hari berlalu begitu saja, cuaca tak pernah bisa dipercaya
dan di simpangan itu, kau masih saja menggerutu
tentang darah yang menyerang segenap pembuluh dan aorta
tentang denyut nadi yang hilang seirama dendang
dan tentang kita
warna-warna telah mengaburkan arah dan lintasan peristiwa
--meski kita tahu, ada yang berubah

tiada lagi
mendung dan gelap telah sama kita pelihara
dan dendam; kita telah terjebak oleh permainan
yang kita ciptakan sendiri
“apa yang harus kita lakukan?” tanyamu
sementara gerimis telah membuat kita
menggigil dalam ketakutan yang panjang

:pantaskah itu kita dustakan?


        Padang, November 1993


Perjalanan (2)


sepertinya ada yang berubah; barangkali fatamorgana
ini adalah untuk kesekian kalinya kita bersapa dengan rasa asing
dan di hati, kita kembali bertanya perjalanan

entah kali keberapa, matahari tak lagi menerangi kamar-kamar
sementara mendung dan gerimis mengakukan dan membuat hati kian beku
senja yang menua, dan bunga yang tak sempat mengembang
telah membawa kita ke tahun-tahun sulit tanpa pergantian
“kapan kita memulai perjalanan baru?” sapamu
dalam udara bergetar
sementara harum rambutmu tak lagi membuatku rindu
--perjalanan yang menyebalkan

kita sama tahu, ada yang berubah
seperti ini negeri, kita tak lagi menemukan wajah dulu
kelembutan cahaya hanya tinggal bayang muram
di batas malam dan senjanya cakrawala


    Padang, November 1993



Perjalanan (3)


pernahkah kujanjikan senja kedua padamu?
padahal yang kutahu, mendung masih bergayut di kelopak langit
dan pada siang yang muram, sepanjang perjalanan hanya gerimis
sementara kita masih terdiam di kereta
mungkinkah ada mantel yang kau janjikan di binar matamu?

hari masih siang, kita mesti bersiap
travel bag  sudah penuh, sementara kau masih membuihkan kata
dan dalam impian-impian semusim, mestinya kita bisa bahagia
namun selalu saja berulang, kita terasing dan tak tahu
harus berbuat apa
tapi kemana kan kau bawa
travel bag  dengan muatan sayang yang sarat di dalamnya?

barangkali kita perlu berhenti, sejenak saja
kita telah melewati perjalanan sia-sia
tapi selalu saja, kekerasan-kekerasan hati membelenggu
:akankah mungkin masa lalu menjelma sebagai masa depan
yang menyenangkan?
meski kutahu, itu (selalu) menjadi anganan panjang
di antara derap dan harap yang mengendap



    Padang, Desember 1994
    Jakarta, Maret 1995




Perjalanan Lelaki


perjalanan lelaki adalah kesenyapan dalam kekerasan
mencari dan menanti makna yang tak kunjung tiba
“apa yang kau harap dari warna pelangi?” tanyamu
entah untuk keberapa. “mengapa pergi?”
entah tanya siapa; yang kembali mengenangkan
perjalanan sunyi pengembara
di antara sapa dan tatap lemah orang-orang
yang tak mampu menjawab: hidup? untuk apa!

perjalanan lelaki adalah kerinduan yang terempas
di jalan-jalan lengang tanpa nada cinta
mengalun dalam embun, membara di antara langkah
adakah hujan menggemuruh bila matahari
membakar beton pencakar langit?
adakah sungai mengalir tenang, bila batu-batu
selalu membenturkan tembok di antara harapan-harapan?
adakah laut tak bergelora, bila badai membidai
dalam gemuruh penggusuran dan proyek real estate?
perjalanan lelaki memang kesetiaan yang diruntuhkan
mencari dan memaknai di batas harapan dan teka-teki


    Bekasi, Jul 1995
    Pondok Gede, Agt 1995



Perpisahan Kotak-kotak
Kenangan bagi F


hanya satu ungkapan untukmu setelah lukisan keindahan itu kau buang
:keterasingan dalam kebersamaan
dan pada saat yang sama kita dihadapkan pada pilihan-pilihan
yang teramat sulit

gerhana telah membuat kita sama-sama sakit
matahari kehilangan cahaya. sementara rembulan
menghitam di antara cahaya-cahaya suram
:mengapa pertemuan menjadi tangis berkepanjangan?
mengapa rasa sayang begitu kejam sebagai impian tanpa kenyataan?
mengapa cahaya terang berubah jadi gelap?
kita terkotak-kotak dan saling curiga
tanpa mampu menjadikan kata sebagai sesuatu yang dipercaya

entah berarti kata maaf, di saat kemarau telah begitu menghantunya
karena pada saat yang sama, kepercayaan telah luruh dengan sendirinya
dan tinggallah kotak-kotak kosong
tanpa kita tahu
apa isinya



    Padang, November 1993




Pertemuan
:Alin


tak hanya seperti masa lampau, kita kembali mengulang
cerita lama yang selalu saja terbengkalai
lewat pertemuan yang tak pernah direncanakan
kita kembali mengulang tahun-tahun pergantian
sementara binar matamu masih memenjara
dan berkisah tentang bunga-bunga di taman

pertemuan; selalu kukenang dan kujelang
cerita yang belum selesai, lembaran-lembaran hari
berjatuhan seirama dendang
dan kau bertanya  tentang perjalanan sebuah sajak
yang kau baca dan simpan di batas kemarau

ada yang berubah; kaburkah segala pandang
yang memabukkan itu? kedewasaan sama dipertaruhkan
sementara kita menginginkan masa lalu menjelma hari ini
(dimanakah tersimpan segala rindu dan dendam
yang kau punya?)

pertemuan; daun-daun mekar dalam alunan suara
(dirimu masih di sini), perjalanan telah
membarai langkah-langkah yang pernah kita lakukan
menjadi terasing, ketika tanpa sengaja kau ciptakan
hujan yang menyejukkan
mungkinkah akan sama, seperti yang selama ini
ada di taman-taman impian?


    Padang, November 1993




Sisa-sisa Sebuah Catatan (1)
:Len


dan kemudian semuanya berjalan tanpa kita pedomani
kita sama bertanya detik. ruang telah menjadikan
kita lembah tak bertepi. dan keasingan; kita selalu
terbentur dan berperang diri sendiri

keberangkatan yang tak pernah direncanakan
kita kembali menjamah musim-musim lampau. ketika kutahu
tentangmu lewat riak kejujuran yang mungkin pernah
kau ucapkan. dan terik cahaya, kita sama berpeluh

pada akhirnya senja tiba jua. perlahan kita melangakah
di arena pertontonan yang kita impikan. mengapa wajahmu
selalu murung? padahal, ini senja yang memabukkan
pertontonan yang menyejukkan – yang membawa lena lebih lama
hingga ke rumah. sampai kita lupa pada sisa-sisa
catatan yang mesti dituliskan


    Sungai Limau, Januari 1994
    Padang, Februari 1994




Sisa-sisa Sebuah Catatan (2)
:Fit


perhentian itu semakin dekat dan kita mesti berteduh
di antara bayangan daun-daun dan bayangan sendiri
kita seperti melihat banyak cibiran dengan wajah-wajah
sinis (tiada embus angin, kecuali sepi dan terik matahari)

menghentikan langkah, kita sama meninjau perjalanan
pergumaman yang lepas; sepertinya ada rasa tidak puas
pada jarak dan waktu, kita seperti menyaksikan pembunuhan
yang direncanakan. dan ketakutan; kita membayangkan
kesuraman di antara senandung kematian

menghentikan langkah; perhentian adalah persinggahan sementara
kita kembali merentang jarak
:masih jauh perjalanan?
ini adalah persinggahan kesekian kalinya. Tualang yang
tak pasti. mungkinkah ada satu perhentian di jalanan
yang begitu buntu?



    Sungai Limau, Januari 1994
    Padang, Februari 1994






Posted by mgmp kab at 15:21:21 | Permanent Link | Comments (0) |

Cerita Pendek

Posted by mgmp kab at 15:20:12 | Permanent Link | Comments (0) |

Drama

Posted by mgmp kab at 15:16:23 | Permanent Link | Comments (0) |

Perangkat

Posted by mgmp kab at 15:15:14 | Permanent Link | Comments (0) |

LKS

maaf data sedang diproses
Posted by mgmp kab at 15:11:07 | Permanent Link | Comments (0) |